Energi Sebagai Modal Pendukung Pembangunan

Konsumsi energi, khususnya energi listrik, adalah salah satu indikator yang digunakan Bank Dunia dalam mengukur pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Walau konsumsi energi listrik Indonesia meningkat setiap tahun namun jumlah konsumsinya masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dan negara berkembang lainnya. Dibutuhkan sebuah perubahan paradigma dalam memandang energi sebagai modal pembangunan yang didukung dengan inovasi kebijakan energi yang berorientasi kepada pemanfaatan sumber-sumber energi yang bersih dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karenanya, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melalui kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang energi menjadi sebuah keniscayaan dalam mendukung pembangunan. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, yang mewakili Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dalam keynote speech-nya di acara International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) 2018 yang diselenggarakan di Audimax, Leibniz University di Hannover Jerman pada 28 April 2018.

ICONIC yang diselenggarakan setiap dua tahun oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman merupakan rangkaian acara konferensi dan forum diskusi ilmiah yang pada kesempatan sebelumnya telah mendatangkan berbagai tokoh penting di bidang iptek seperti Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. ICONIC 2018 yang dibuka oleh Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno turut menghadirkan berbagai pembicara kunci dari berbagai latar belakang seperti Siswo Pramono dari Kementerian Luar Negeri, Toto Suharto, Managing Director PT Bosch Indonesia dan Tutuka Ariadji dari ITB. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah ‘Science and Technology for Sustainable Development’.

Lebih lanjut, Dimyati menyampaikan bahwa Pemerintah RI memiliki komitmen besar dalam pengembangan riset di bidang energi, khususnya energi baru dan terbarukan. “Dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang baru saja disahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2018, energi merupakan salah satu bidang riset yang menjadi prioritas Pemerintah”, ujar Dimyati. Selain itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga telah mengeluarkan berbagai instrument kebijakan seperti pendanaan penelitian melalui skema Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), dan peraturan terkait pengadaan barang/jasa penelitian yang bertujuan untuk menggalakkan dan memudahkan kegiatan penelitian. Berbagai program Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi turut diintegrasikan dengan program dari berbagai Kementerian/Lembaga dalam mendukung Kebijakan Energi Nasional.

Di penghujung speech-nya, Dimyati menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi penelitian antara peneliti Indonesia dan asing, khususnya Jerman, karena sinergi dan kolaborasi adalah kunci dalam meningkatkan kualitas peneliti dan penelitian di Indonesia. (BHKLI/MH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *