Penghargaan Bagi Mitra Kerja Peneliti Asing

Jakarta, 5 Juli 2018 – Kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan upaya untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi kehidupan masyarakat ilmiah internasional, salah satunya melalui kolaborasi riset dengan pihak asing. Dalam PP No. 41 Tahun 2006 diatur bahwa lembaga litbang asing, perguruan tinggi asing, dan badan usaha asing dalam melakukan penelitian di Indonesia harus mempunyai mitra kerja yang memiliki kompetensi setara dan relevan dengan lembaga litbang asing, perguruan tinggi asing, dan badan usaha asing tersebut. Untuk meningkatkan layanan dan kepuasan publik, serta sinergitas dan kompetensi mitra kerja, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan “Rapat Koordinasi Nasional Mitra Kerja Peneliti Asing” di Jakarta (05/07/2018).

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan – Muhammad Dimyati menjelaskan bahwa Rakornas ini bertujuan untuk meningkatkan peluang dan sekaligus menjawab tantangan kerja sama Iptek internasional. Harus disebutkan dan telah diakui banyak pihak bahwa Indonesia masih menjadi daya tarik luar biasa bagi peneliti asing dalam berbagai bidang, terutama bio-diversitas yang luar biasa dimiliki Indonesia. Indonesia bagaikan gadis yang sangat cantik dan dilirik banyak orang. Untuk itu kita harus terbuka tetapi hati-hati.

“Peran mitra kerja sangat strategis karena selain sebagai pelaku kerja sama, juga berperan sebagai agen transfer iptek. Untuk itu kompetensi dari mitra kerja haruslah setara dengan pihak asing agar tidak terjadi kesenjangan dalam bidang keilmuan” – lanjut Dimyati.

Menristekdikti – Mohamad Nasir menjelaskan bahwa kerja sama penelitian internasional sangat strategis dan berdampak positif terhadap pembangunan iptek nasional, namun demikian perlu dicermati aspek kemanfaatan dalam hal kerja sama internasional tersebut, harus diimbangi dengan kewaspadaan melalui regulasi terkait dengan keamanan dan kepentingan nasional, pencegahan dari kerugian yang timbul akibat portensi pengalihan material penelitian, penyalahgunaan hak kekayaan intelektual, serta pembagian keuntungan yang seimbang atas hasil – hasil penelitian yang memiliki nilai komersial.

“Izin riset ini sebagai kontrol kekayaan alam Indonesia dan menjaga keamanan nasional. Kekayaan alam kita ini sangat luar biasa banyaknya, kalau tidak dijaga dengan baik dikhawatirkan semua akan keluar tanpa makna.” – lanjut Nasir.

Dalam rangkaian acara Rakornas ini akan dilakukan peluncuran (launching) Sistem Aplikasi Virtual Meeting TKPIPA (SIVITA) dan Pemberian Anugerah Mitra Kerja Terbaik oleh Menristekdikti serta Deklarasi Forum Komunikasi Mitra Kerja Riset Internasional oleh perwakilan lembaga mitra kerja.

Sistem Aplikasi Virtual Meeting TKPIPA (SIVITA) merupakan sistem yang dapat mengakomodir proses review secara online, dengan adanya aplikasi ini dapat mengurangi waktu, sehingga menjadi kurang dari 9 hari kerja dari proses manual yang memakan waktu hingga 20 hari kerja.

“Proses perizinan di Kemenristekdikti harus dipercepat, Setiap tahunnya kemenristekdikti menerima lebih dari 750 aplikasi riset dari lemlitbang dan perguraun tinggi asing dari berbagai negara yang melakukan riset di berbagai bidang ilmu ” – Ujar Nasir

Percepatan dan simplifikasi proses perijinan tersebut akan terus diperbaiki. Namun perlu waktu, karena proses perijinan dari awal Peneliti Asing mengurus ijin hingga mereka dapat meneliti di Indonesia diurus oleh 20 institusi lebih, belum lagi apabila penelitiannya dilakukan di daerah, maka akan bertambah institusi daerah yang terlibat dalam perijinan dimaksud.

Kemenristekdikti juga memberikan penghargaan untuk Mitra Kerja terbaik yang dibagi menjadi 2 kategori yaitu Kategori Institusi dan Kategori Penulis. Kategori Institusi terdiri atas Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa; Perguruan Tinggi Negeri di luar Pulau Jawa; Perguruan Tinggi Swasta; serta Lembaga Penelitian dan Pengembangan Non Perguruan Tinggi. Sedangkan, Kategori Penulis terdiri atas Penulis dari Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa; Penulis dari Perguruan Tinggi Negeri di Luar Pulau Jawa

“Dengan diberikan penghargaan ini, kami mengharapkan agar mitra kerja lainnya dapat terpacu untuk meningkatkan kualitasnya” – sambung Nasir

Selain itu, dalam kesempatan ini perwakilan lembaga mitra kerja mendeklarasikan Forum Komunikasi Mitra Kerja Riset Internasional guna menghimpun, mewadahi, memperjuangkan kepetingan anggota – anggota organisasi dalam rangka meningkatkan pembangunan kapasitas lembaga mitra kerja dan mengoptimalkan produktifitas kekayaan intelektual yang dihasilkan sebagai keluaran kerja sama riset internasional.

Dimyati mengatakan tantangan selanjutnya dalam kerja sama penelitian internasional yang sering dihadapi oleh para mitra kerja peneliti asing, diantaranya masih kurangnya pemahaman terhadap regulasi dan dokumen kerjasama, seperti Memorandum of Understanding (MoU), Implementing Arrangement, dan Material Transfer Agreement. Akibat dari kekurang pemahaman tersebut, tidak sedikit Peneliti Asing yang bertanya-tanya dan seolah berkesan bahwa ijin penelitian di Indonesia sangat sulit, dsb. Dan dalam rengka menegakkan regulasi, maka siapa pun tidak boleh melanggar aturan dan perundangan di Indonesia, baik peneliti Indonesia maupun peneliti asing, dan bagi yang melanggar akan dikenai sanksi sesuai dengan pelanggarannya. Kalau pelanggarannya kriminal, seperti misalnya mencuri barang maka perlakuan sanksinya kriminal, tapi kalau pelanggarannya ringan seperti karena dokumen kurang lengkap maka diminta melengkapi dokumen, dsb.

“Dengan dideklarasikannya Forum Komunikasi Mitra Kerja Riset Internasional oleh perwakilan lembaga mitra kerja, diharapkan dapat mengatasi permasalahan dan tantangan yang muncul di masa yang akan datang.” – sambung Dimyati.

Rakornas ini diharapkan dapat menghasilkan keluaran berupa rekomendasi untuk menangkap peluang, menghadapi tantangan kerjasama iptek internasional, meningkatkan posisi tawar dalam pembagian manfaat yang adil dan layak.

Sumber:

Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *