RIRN Sebagai Acuan Riset dan Pengembangan

Sebuah langkah nyata pemerintah dalam mendorong daya saing bangsa adalah dengan menrumuskan Rencana Induk Riset dan Nasional (RIRN) sebagai dokumen acuan riset dan pengembangan. Pernyataan tersebut bergulir dalam Focus Group Discussion RIRN di Hotel Century, Jakarta (11/04/2018) yang dihadiri oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Pimpinan Kementerian dan Lembaga terkait, dan Rektor Pendidikan Tinggi.

Dalam sambutannya mewakili Anggota Komisi VII DPR RI – Herman Khaeron menjelaskan jika melihat konstruksi RIRN ini tentu tidak akan terlepas dari regulasi diatasnya, menurut hasil rapat dengan Menristekdikti RUU SINas Iptek diharapkan segera disinkronisasikan dengan RIRN

“Ini menjadi kesempatan kita dalam mencurahkan pendapat, pandangan, serta gagasan meski kita tau konsepsi ini sudah di meja Presiden. Namun ini adalah bentuk penyempurnaan dan sinkronisasi Rencana Induk Riset Nasional terhadap substansi RUU SINas Iptek.” – ujar Herman.

“Bukan hal yang tabu, karena dalam proses merancang regulasi (UU), sebagai contoh, bisa saja mengangkat peraturan menteri yang sudah terbit ke batang tubuh RUU apabila itu (Peraturan Menteri) memiliki kekuatan/esensi yang baik bagi sektortalnya” – Sambung Herman.

Jika berbicara daya saing salah satu rujukannya adalah World Economic Forum.WEF menyatakan bahwa daya saing Indonesia menurun pada tahun 2015 & 2016. Pada 2014 Indonesia di posisi 34 dan 2015 turun peringkat menjadi posisi 37 dan 2016 menjadi posisi 41 serta pada 2017 sedikit naik peringkat menjadi posisi 36. Hal ini menjadi perhatian kita bersama untuk memperbaiki masalah riset nasional.

Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan – Muhammad Dimyati melanjutkan acara dengan memaparkan masalah riset nasional yang menjadi kendala utama di Indonesia yaitu: Sumber Daya Manusia, Manajemen Riset, Kelembagaan Riset, dan Anggaran Riset.

“Jumlah SDM Peneliti Indonesia 1.071 orang per juta penduduk ini sudah dihitung dengan para dosen yang melakukan dan tidak melakukan penelitian, menurut data lipi kurang dari 500. Selain itu produktifitas peneliti kita sangat rendah. Dalam konteks manajemen riset bahwa kegiatan riset itu masih disamakan dengan kegiatan administratif dan pada sisi kelembagaan belum adanya lembaga selain rendahnya sinergitas Lembaga litbang dengan Industri serta dukungan prasarana riset yang rendah” – Jelas Dimyati.

“Bicara anggaran, kalau dibandingkan dengan negara – negara di dunia, Indonesia dalam konteks anggaran riset / Gross Expenditur of Research and Development (GERD) kita masih paling rendah 0,25 per GDP, masih kalah dengan mexico, bangladesh, Saudi Arabia Dsb. Padalah kita menyadari bahwa ada korelasi positif antara alokasi anggaran riset dengan kemajuan suatu bangsa” – Sambungnya.

Menjawab masalah diatas kita membutuhkan kebijakan untuk memajukan iptek, salah satunya adalah RIRN. RIRN disusun untuk menempatkan iptek agar punya kontribusi secara signifikan (dan terukur) dalam pembangunan ekonomi nasional. Untuk mengukur seberapa besar kontribusi iptek tersebut digunakan indikator produktifitas SDM iptek (peneliti). Produktifitas tsb berkorelasi dengan input SD iptek dan anggarannya, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Bila produktifitas meningkat, jumlah kekayaan intelektual juga meningkat. Peningkatan kekayaan intelektual berkorelasi positif dengan pemanfaatan KI dalam industri.

Dalam sesi diskusi, Andy Jamaro Dulung mendukung untuk percepatan dokumen legal dan mendukung perbaikan aspek sarana prasana, seperti penggunaan laboratorium antar lembaga. Sejalan dengan Andy, Rektor Universitas Al Azhar Asep Saefudin menegaskan dalam proses penelitian diberi kemudahan dalam menggunakan sarana prasarana. Menanggapi itu, Yan Rianto – Lipi menjelaskan bahwa Lipi telah membuka Laboratoriumnya untuk digunakan lembaga litbang lainnya.

Pada akhirnya, Dokumen RIRN diharapkan menjadi acuan bersama dalam mendukung pertumbuhan daya saing bangsa serta menciptakan iklim riset yang kondusif bagi seluruh stakeholders.

Komentar

  1. Setuju dengan diadakannya Program Rencana Induk Riset dan Nasional, untuk menggalakkan dilakukannya penelitian-penelitian di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *