2030, Peneliti Indonesia Jadi 10 Besar Dunia

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebutkan bahwa saat ini, daya saing Indonesia masih cukup rendah, yaitu di peringkat 36 dari 137 negera.
”Diharapkan tahun 2030, para peneliti Indonesia menjadi 10 besar di dunia. Tahun 2050 pertumbuhan ekonomi Indonesia nomor 4 di dunia,” ujar Menristekdikti, Mohamad Nasir di Jakarta, kemarin.

Maka dari itu, masalah sumber daya manusia Indonesia yang akan menjadi bonus demografi bagi Indonesia pada tahun 2030 nanti harus dimanfaatkan dengan baik. ”Kemristekdikti dengan Lemhanas akan mengawali bagaimana membentuk cara pandang di dalam pengelola lembaga itu dan cara melayani kepada masyarakat. Ini kaitannya untuk melakukan kemajuan pada masa yang
akan datang,” terangnya.

Untuk membentuk mindset, Nasir mengatakan para pengelola dengan memberikan pemahaman tentang Theory U yaitu bagaimana kita melakukan satu bentuk perubahan di dunia yang disampaikan oleh Otto Scharmer yang
memiliki suatu metode untuk mengubah dunia. ”Untuk itu, kita lakukan secara bersamasama seluruh kementerian dan lembagauntuk menjalankan hal yang sama kepada staf di bawahnya dan akan dimonitor oleh Lemhanas. Sebelum melakukan pelatihan apa yang mereka lakukan perubahan yang dilakukan, perubahan sejauh apa,” ungkapnya.
Nantinya hasilnya akan di-review oleh semua elemen, tidak hanya pemerintah, namun juga melibatkan masyarakat, LSM serta ormas yang lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam sambutan kegiatan penguatan kapasitas pemimpin Indonesia menjelaskan bahwa program ini disiapkan untuk membuka cakrawala menunju perubahan dan perilaku kapasitas manusia.
Menurut Darmin, banyak hal yang harus berubah dari diri sendiri, cara kerja dan kapasitas kita untuk menghadapi revolusi industri.
”Seorang pemimpin ke depan tidak korupsi dan tidak boros. Dengan revolusi kali ini yang akan mewabah ke seluruh dunia kita harus mempersiapkan diri dan mendengarkan usulan orang lain serta bekerja sama,” tutur Darmin.
Gubernur Lemhanas Agus Widjojo menuturkan bahwa program ini dilihat secara keseluruhan tentang kepemimpinan, sistem dan penekanan terhadap kerja sama.
”Kita harus mengubah mindset berpikir untuk menghadapi revolusi mental. Peserta dari seluruh komponen tidak terbatas dari perguruan tinggi, kementerian dan nonkementerian,” tambahnya.(nya-34)

NYA | Suara Merdeka | Sat, 07th July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *