Kerja Sama Penelitian Internasional, Keamanan Nasional Tetap Prioritas

Jakarta: Kerja sama penelitian internasional perlu ditingkatkan, karena sangat strategis dan berdampak positif terhadap pembangunan iptek nasional. Namun melibatkan peneliti asing dalam sebuah penelitian tetap harus memprioritaskan faktor keamanan dan kepentingan nasional.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menegaskan, kerja sama internasional harus seimbang dengan kewaspadaan terhadap ancaman keamanan dan kepentingan nasional. “Untuk itu, perlu ada regulasi, terutama terkait perizinan yang jelas dan harus dipatuhi, sebagai bentuk pencegahan dari kerugian yang timbul akibat potensi negatif yang mungkin terjadi.

“Seperti pengalihan material penelitian, penyalahgunaan hak kekayaan intelektual, serta pembagian keuntungan yang seimbang atas hasil-hasil penelitan yang memiliki nilai komersial,” kata Nasir dalam Rakornas Mitra Kerja Peneliti Asing, di Jakarta.

Lebih lanjut disampaikan, bahwa izin riset penting sebagai kontrol kekayaan alam Indonesia dan menjaga keamanan nasional. Karena kekayaan alam Indonesia sangat luar biasa banyaknya, Jika tidak dijaga dengan baik, dikhawatirkan semua akan keluar tanpa makna.

“Proses perizinan di Kemenristekdikti harus dipercepat,” tegas Nasir.

Setiap tahunnya Kemenristekdikti menerima lebih dari 750 aplikasi riset dari lembaga litbang dan perguruan tinggi asing dari berbagai negara, yang melakukan riset di berbagai bidang ilmu. Nasir mengatakan, percepatan dan simplifikasi proses perizinan tersebut akan terus diperbaiki.

Namun masih perlu waktu, karena proses perizinan dari awal peneliti asing mengurus izin hingga mereka dapat meneliti di Indonesia diurus oleh setidaknya 20 institusi. Belum lagi jika penelitiannya dilakukan di daerah, maka akan bertambah institusi daerah yang terlibat dalam perizinan.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Mohamad Dimyati menambahkan, Indonesia masih menjadi daya tarik luar biasa bagi peneliti asing dalam berbagai bidang. Terutama bio-diversitas yang luar biasa dimiliki Indonesia.

Untuk itu, kata Dimyati, meski harus terbuka terhadap kerja sama penelitian internasional, namun tetap berhati-hati. Di sinilah peran mitra kerja sangat strategis, karena selain sebagai pelaku kerja sama, juga berperan sebagai agen transfer iptek. “Untuk itu, kompetensi dari mitra kerja haruslah setara dengan pihak asing agar tidak terjadi kesenjangan dalam bidang keilmuan,” kata Dimyati.

Dalam rangkaian acara Rakornas tersebut juga dilakukan peluncuran Sistem Aplikasi Virtual Meeting TKPIPA (SIVITA) dan Pemberian Anugerah Mitra Kerja Terbaik oleh Menristekdikti, serta Deklarasi Forum Komunikasi Mitra Kerja Riset Internasional oleh perwakilan lembaga mitra kerja.

Sistem Aplikasi Virtual Meeting TKPIPA (SIVITA) merupakan sistem yang dapat mengakomodir proses reviewsecara online. Dengan adanya aplikasi ini dapat mengurangi waktu, sehingga menjadi dari 9 hari kerja dari proses manual yang biasanya memakan waktu hingga 20 hari kerja.

Dalam acara tersebut, Kemenrsitekdikti juga memberikan penghargaan untuk Mitra Kerja terbaik yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu Kategori Institusi dan Kategori Penulis. Kategori Institusi terdiri atas Perguruan Tinggi Negeri di Puau Jawa, Perguruan Tinggi di Luar Jawa, Perguruan Tinggi Swasta, serta Lembaga Penelitian dan Pengembangan Non Perguruan Tinggi.

Sedangkan Kategori Penulis terdiri atas Penulis dari Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa, dan Penulis dari Perguruan Tinggi Negeri di Luar Pulau Jawa.

intan Yunelia | Medcom | Sat, 07th July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *