Tips Menghindari Plagiasi di Kalangan Akademik

Era digital menawarkan kemudahan yang sering membuat penggunanya terlena. Maka tidak heran, bila pertumbuhannya beriringan dengan munculnya masalah-masalah baru ke permukaan yang jarang dilihat orang.

Dalam dunia akademis, masalah plagiasi menjadi yang paling sering ditimbulkan perkembangan teknologi digital. Menilik masalah tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengeluarkan aturan pengecekan karya ilmiah menggunakan software tertentu. Hasil pengecekan yang bisa ditoleransi harus di bawah angka 20%.

“Akan tetapi, tidak sedikit kaum akademik yang merasa kesulitan untuk memenuhi persyaratan tersebut. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka persyaratan tentang penggunaan jurnal di dalam sebuah penelitian semakin bertambah, yang kemudian tidak menutup kemungkinan meningkatkan tingkat plagiasi,” jelas Dosen Magister Manajemen Pascasarjana UMY, Dr. Nuryakin, MM, seperti dilansir dari laman UMY, Senin (1/1/2018).

Kendati demikian, ada sedikit tips agar karya ilmiah terhindar dari plagiasi. Hal pertama yang harus dilakukan, yaitu memahami bagaimana sistem ini bekerja.

“Untuk mengatasi hal tersebut maka jangan lakukan kutipan secara langsung yang sama persis. Lihatlah terlebih dahulu kata kunci dari kalimat yang akan dikutip, lalu kemudian buatlah paraphrase dari kalimat tersebut sehingga tidak akan mengubah makna dari kalimat,” imbuhnya.

Ada lagi hal penting yang tidak boleh dilupakan, yakni kajian pustaka. Kemajuan teknologi sangat diperlukan dalam hal ini, sebab sangat mungkin bagi peneliti untuk membuat perpustakaan maya sendiri.

Tambah Dr. Nuryakin, semua itu harus dikemas dalam proses menulis kreatif. Proses ini memerlukan perujukan, penegasan, dan penguatan dari para pendahulu, atau sumber-sumber kuat penelitian sebagaimana mestinya karya ilmiah.

Terakhir, ia mengingatkan agar para peneliti tak perlu terlalu banyak menulis pendahuluan yang bertele-tele. “Banyak mahasiswa membuat parade jurnal dengan alasan supaya karya ilmiahnya terlihat banyak dan tebal. Padahal sebenarnya hal tersebut justru menjadikan nilai jual jurnal turun dan memang itu tidak seharusnya dilakukan,” tegasnya.

Sumber : okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *