Pesan Dirjen Risbang

Iptek merupakan instrument penting guna memajukan suatu bangsa. Dengan Iptek bangsa-bangsa di dunia dapat maju dan sejahtera. Iptek dihasilkan dari proses panjang R&D. Untuk itu menciptakan dan mengelola environment R&D yang kondusif akan menjadi pemicu munculnya iptek yang kualifaid, produktif dan relevan bagi kemajuan dan keberadaban sebuah bangsa.Environment R&D mencakup keberadaan regulasi yang berpihak kepada para penelitinya, sarana-prasarana penelitian yang mendukung kemudahan penelitian, kelembagaan penelitian yang kredibel dan berkomitmen dalam mengurai masalah penelitian, jumlah dan kualitas peneliti yang mempunyai passion dalam bidang fokusnya dan tidak sekedar menggugurkan kewajiban dalam menjalankan penelitian, serta dukungan penganggaran dari pemerintah maupun swasta yang tercermin sebagai gross expenditure for research and development dan keberpihakan negara dalam mewujudkan dan menghilirisasi hasil-hasil R&D.

Indonesia sedang berjalan menyongsong masa depan yang lebih makmur dan mensejahterakan, melalui berbagai keberpihakan dan kehadiran negara dalam R&D. Hal tersebut terlihat dari mulai meningkatnya berbagai dukungan negara dalam R&D, berbagai perbaikan regulasi seperti penyusunan Rencana Induk Riset Nasional 2015-2045, revisi undang-undang 18/2002 karena berubahnya dinamika lingkungan strategis, dorongan kepada para peneliti untuk dapat melakukan focus dalam R&D melalui mekanisme riset berbasis output, dan juga diluncurkannya Science Technology Index (Sinta) yang mendapat sambutan sangat positif dari berbagai stakeholder terbukti dengan banyaknya pendaftar (hingga kini sudah mencapai hamper 80 ribu) dan semakin meingkatnya pengakses Sinta dari berbagai negara (hingga kini lebih dari 150 juta pengakses dalam usianya yang hamper satu tahun). Tumbuhnya dukungan negara dalam R&D melalui trend positif anggaran negara (Pemerintah dan Swasta) yang kini mencapai 0,25% per PDB (atau sebesar sekitar Rp 30,7 Triliun rupiah) walau masih dibawah Thailand (sekitar 0,63%), Malaysia (sekitar 1,3%), dan Singapor (sekitar 2,2%) yang dibuktikan dengan trend positif pertumbuhan publikasi terindeks global dari peneliti Indonesia, menjadi salah satu bukti bahwa perjalanan R&D berada pada track yang sudah relative benar.

Untuk itu trend positif tersebut perlu terus dipertahankan melalui perbaikan dan peningkatan yang lebih kualitatif dan sinambung atas berbagai skema dan program negara, khususnya oleh Kementrian Ristekdikti yang diberi tanggungjawab dalam bidang riset. Kemenristekdikti, khususnya melalui Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan perlu terus bekerja keras dan berupaya cerdas melalui pemanfaatan gegap gempitanya bangsa ini menyambut era Industri 4.0 dan semangat open science yang terus menggelora, guna meningkatkan produktifitas dan relevansi penelitian di Indonesia. Dengan usaha tersebut, dan tentu diiringi doa untuk selalu mendapatkan keridhoan dari Allah SWT, keinginan untuk menjadikan R&D sebagai instrument yang signifikan dan terukur dalam pembangunan ekonomi nasional, termasuk memperkuat prediksi Price and Water Cooper dimana nanti pada tahun 2030 Indonesia menjadi negara kuat ke-5 di dunia akan semakin menapaki puncaknya.

Bagi seluruh stakleholder, masyarakat dan komunitas peneliti, dan tentu kita semua marilah kita bersinergi, bergandengan tangan merapatkan barisan untuk menggapai cita-cita bersama yaitu menjadi “Indonesia yang berdaya saing berbasis iptek” dengan penuh tekad dan kerja cerdas dibawah bimbingan dan lindungan Allah Tuhan Yang Maha Perkasa. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita semua para pejuang Iptek di Indonesia. Amin Ya Robbal’alamin.

Salam Iptek
Jakarta, Januari 2018

Muhammad Dimyati