Indonesia Harus Meningkatkan Produktivitas Paten Jika Ingin Menjadi Negara Maju

Negara-negara yang dikategorikan negara maju rata-rata memiliki produktivitas paten dua kali lipat dibandingkan dengan publikasi ilmiah di jurnal internasional. Sebagai contoh, China menghasilkan 1.245.709 paten terdaftar tahun 2017, sedangkan publikasi ilmiah di jurnal internasionalnya sebanyak 535.896 tahun 2017. Sama halnya dengan Korea Selatan yang menghasilkan 159.084 paten terdaftar tahun 2017, sedangkan publikasi ilmiaih di jurnal internasionalnya sebanyak 83.879 tahun 2017. Begitupun dengan Jepang yang menghasilkan 260.290 paten terdaftar tahun 2017, sedangkan publikasi ilmiah di jurnal internasionalnya sebanyak 130.632 tahun 2017.

Hal itu disampaikan Kepala Sub Direktorat Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) – Juldin Bahriansyah saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Sentra Hak Kekayaan Intelektual (Sentra HKI) di Hotel Mercure Nusa Dua, Bali, Selasa (25/6) sore.

“Indonesia merupakan pendaftar paten domestik tertinggi di Asean dengan 2.395 paten terdaftar di tahun 2017 dan 2.954 paten terdaftar di tahun 2018. Kami optimis tahun 2019 kita bisa mendekati 3500 paten terdaftar.” Ujar Juldin.

Juldin menjelaskan bahwa untuk mengikuti tren negara maju merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi bangsa kita. Indonesia menghasilkan lebih dari 30 ribu publikasi ilmiah di jurnal internasional tahun 2018. “Setidaknya kita harus mengejar 30 ribu paten terdaftar, bukan mengurangi jumlah publikasi di jurnal internasional, namun meningkatkan jumlah paten terdaftar dari 2 ribu ke 30 ribu. Jika momentum kenaikan paten terdaftar ini kita teruskan, mungkin bisa tercapai jika setiap penelitian terkait teknologi lebih diarahkan untuk menghasilkan paten. Jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia sangat mendukung untuk pencapaian tersebut.” Lanjut Juldin.

Juldin menjelaskan bahwa rapat koordinasi ini bertujuan untuk melakukan monitoring terhadap penerima Insentif Penguatan Sentra HKI periode tahun 2016-2018, yang diharapkan para penerima insentif tersebut dapat mempertahankan momentum agar tetap meningkatkan produktivitas, jangan sampai kondisinya kembali seperti sebelum menerima insentif dari Kemenristekdikti.

“Setiap tahun kami memberikan insentif kepada Sentra HKI untuk mengembangkan atau meningkatkan kapasitasnya baik organisasi maupun produktivitasnya. Di awal-awal pembentukannya, Sentra HKI perlu diberikan stimulus dengan panduan yang telah ditentukan. Tahun 2019, kami memberikan insentif kepada 35 Sentra HKI dengan besarannya Rp. 70 juta setiap Sentra HKI.” Jelasnya.

“Sentra HKI diharapkan dapat mendorong komersialisasi juga, bukan hanya melakukan pendaftaran HKI. Diharapkan perguruan tinggi juga menghasilkan revenue dari komersialisasi hasil penelitian berupa royalti. ” Lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Dhyana Pura (Undhira) – Made Nyandra menyampaikan bahwa rapat koodinasi ini sangat bermanfaat untuk mensosialisasikan manajemen HKI kepada Sentra HKI, serta untuk menjalin koordinasi dan saling membagi pengalaman antar Sentra HKI. “Sentra HKI Undhira saat ini juga membantu komersialisasi, khususnya terkait dengan herbal. Indonesia terkenal dengan herbalnya. Salah satunya yang kami bantu adalah Desa Catur, Kintamani yang menghasilkan Minyak Catur Wangi. Pemerintah Daerah sangat mendukung, bahkan diharapkan Desa Catur menjadi desa wisata dengan adanya Minyak Catur Wangi.” Ujar Nyandra.

“Minyak Catur Wangi akan kami bantu sampai uji klinisnya, yang diharapkan kedepannya dapat masuk ke klinik-klinik bugar yang dibuka oleh Kemenkes di seluruh Indonesia.” Jelas Nyandra.

Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – Nurul Taufiqu Rochman sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan ini juga menegaskan bahwa keberadaan Sentra HKI merupakan hal yang urgent dan sangat penting. “Saat ini ada yang dikenal dengan namanya aset tak berwujud. 500 produk paling laris dunia, 80% nya merupakan aset tak berwujud seperti paten, hak cipta, dan HKI lainnya. Jadi jika Indonesia tidak ikut mengakselerasi perkembangan HKI, kita tidak akan menjadi negara yang kaya.” Ujarnya.

“Program-program dari Kemenristekdikti, dari LIPI, atau kementerian/lembaga lainnya bertujuan untuk mengakselerasi perolehan HKI, termasuk Rakornas yang dilaksanakan hari ini.” Lanjutnya.

Nurul merupakan peneliti yang menghasilkan 23 paten. Lulusan dari Jepang tersebut juga menjelaskan bahwa Pemerintah mengkategorikan HKI sebagai aset tak berwujud yang dapat dijadikan jaminan ke bank. “Salah satu penelitiannya, nano propolis yang sama sekali tidak menggunakan dana Pemerintah, saat ini memiliki omset 60 Milyar per tahun. Sesuai dengan masa perlindungan paten, 60 Milyar dikali 20 tahun sama dengan 1,2 Triliun. Ini hanya dari satu peneliti.” Jelasnya.

Terkait dengan pernyataan Presiden mengenai kemana hasilnya 24 Triliun dana penelitian, Nurul menjelaskan bahwa saat ini belum ada yang menghitung secara rinci dampak dari hasil penelitian yang dikomersialisasikan, sehingga hasil dari para ilmuan ini tidak terinformasikan. “Dalam presentasi saya disebutkan bahwa cukup 30 orang seperti saya dapat menjawab pertanyaan Pak Jokowi, maksudnya hasil dari para ilmuan ini dampaknya bisa dihitung. Dari sisi pajak, PPN dan PPh dari omset nano propolis saja sudah berapa masuk ke negara, itu dari satu orang saja.” Paparnya.

“Bayangkan jika Indonesia setiap tahunnya bisa menghasilkan 10 ribu paten yang dapat dikapitalisasi, dihitung dampaknya, untuk menjawab pertanyaan Presiden atau DPR gampang.” Tutupnya.

Rapat koordinasi ini diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerja sama dengan Undhira mulai dari tanggal 25-27 Juni 2019. 70 Sentra HKI se-Indonesia yang pernah menerima Insentif Penguatan Sentra HKI dari Kemenristekdikti diundang dalam kegiatan ini.

 

Bagian Hukum, Kerjasama, dan Layanan Informasi
Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *