Kemenristekdikti: ABG Harus Berjamaah dalam Percepatan Riset Bidang Energi

Jakarta- Percepatan riset dalam negeri terutama di bidang energi perlu dilakukan. Akademisi, bisnis atau pengusaha, dan pemerintah yang biasa disebut ABG harus bersinergi dan bekerjasama untuk melakukan percepatan riset tersebut.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati saat memberikan keynote speech mengenai “Peran R&D dalam Mendukung Pembangunan Sektor Energi Nasional” dalam seminar “Inovasi untuk Negeri” yang diselenggarakan oleh PT. Shell Indonesia bekerjasama dengan Energy Academy Indonesia (Ecadin) di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (14/8) pagi.

“Kita harus memanfaatkan golden momentum dari keuntungan bonus demografi untuk percepatan riset dalam negeri terutama di bidang energi dengan support dari sektor swasta.” Ujar Dimyati.

“Kalangan akademisi, bisnis, dan pemerintah harus berjamaah dalam melakukan riset agar output yang dihasilkan lebih optimal.” Lanjutnya.

Kemenristekdikti telah mengeluarkan beberapa kebijakan berupa peraturan untuk mendukung iklim percepatan riset dan pengembangan. “Kemenristekdikti telah menyusun dan menetapkan kebijakan yang diharapkan dapat mendukung iklim pelaksanaan riset menjadi lebih baik lagi, seperti rencana induk riset nasional (RIRN), penelitian berbasis output, dan penelitian multiyears.” Jelas Dimyati.

“Kemenristekdikti juga saat ini tengah berupaya menyusun aturan mengenai double tax deduction yang pada intinya memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan penelitian.” Papar Dimyati.

Kebijakan double tax deduction sedang disusun oleh Kemenristekdikti bersama-sama dengan Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan dengan tujuan mendorong peran serta sektor swasta untuk melakukan riset dan pengembangan lebih banyak lagi mengingat kontribusi sektor swasta yang masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Berdasarkan data yang telah disusun oleh LIPI bekerjasama dengan Kemenristekdikti tahun 2017, jumlah dana riset di Indonesia mayoritas berasal dari Pemerintah atau APBN, berbanding terbalik dengan negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, China, Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam, yang mayoritas dana risetnya berasal dari sektor bisnis.” Ujar Dimyati.

Seminar ini dihadiri oleh 75 peserta dari kalangan akademisi, swasta, BUMN, dan LPNK. Dalam acara ini juga dipamerkan produk inovasi dari MMKM LIPI, Innovation Geeks, REPGY, PSSL ITS, Maxwell, dan Infinite.

Bagian Hukum, Kerjasama, dan Layanan Informasi
Ditjen Penguatan Risbang, Kemenristekdikti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *