Informasi Hasil Penelitian Berpotensi Paten Jangan Disebarkan Sebelum Dilindungi Kekayaan Intelektualnya

Perlindungan kekayaan intelektual sangat penting untuk menghindari pencurian yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penyebaran informasi hasil penelitian dapat dilakukan setelah hasil penelitiannya itu dilindungi kekayaan intelektualnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Hal itu disampaikan Kepala Sub Direktorat Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) – Juldin Bahriansyah saat memberikan sambutan dalam acara Pelatihan Pemanfaatan Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berpotensi Paten di Hotel Arthama Makassar, Rabu (27/3) siang.

“Semua yang dipandang memiliki akses terhadap hasil penelitian harus dapat menjaga kerahasiaannya. Karena dalam era saat ini, tidak menutup kemungkinan terdapat praktik-praktik pencurian kekayaan intelektual.” Ujar Juldin.

Juldin menjelaskan bahwa hasil penelitian yang berpotensi paten harus didaftarkan patennya terlebih dahulu dibandingkan dengan publikasi di jurnal untuk memastikan agar perlindungan patennya didapatkan. “Berdasarkan UU Paten, jika lebih dari enam bulan setelah publikasi di jurnal tidak didaftarkan patennya, maka invensi tersebut tidak dianggap baru dan tidak dapat diberikan paten.” Lanjutnya.

“Penelitian juga harus berdasarkan penelusuran, dalam pelatihan ini terlihat nanti apakah Bapak/Ibu telah melaksanakan penelusuran atau belum. Penelusuran dilakukan untuk mengetahui apakah teknologi dari penelitian yang akan dilakukan telah dihasilkan oleh orang lain atau tidak. Banyak yang beranggapan bahwa hasil penelitiannya paling baru, tetapi setelah dilakukan penelusuran ternyata teknologi yang dihasilkan sudah ada di negara lain.” Paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Politeknik Pertanian Pangkajene Kepulauan – Darmawan menyampaikan bahwa pelatihan seperti ini sangat besar manfaatnya untuk dosen dan peneliti. “Dengan pelatihan ini, sesuai dengan yang kita harapkan bersama bahwa hasil penelitian kita dapat didaftarkan patennya sebagai salah satu output hasil penelitian. Jika kita lihat manfaatnya, kegiatan ini melalui fasilitatornya mengarahkan dan mendampingi apa yang telah kita temukan (untuk dituangkan dalam dokumen spesifikasi paten), yang jika secara mandiri menyusunnya, berkonsekuensi terhadap pembiayaan.” Ujar Darmawan.

“Diharapkan Bapak dan Ibu dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik, sehingga apa yang akan diusulkan itu dapat diwujudkan, oleh karena itu tentu jika nanti dinyatakan lolos, Bapak dan Ibu sudah menyiapkan apa yang dibutuhkan, sehigga datang ke pelatihan ini tidak hanya untuk mendengarkan materi saja. Hasil dari pelatihan ini adalah berapa jumlah draf paten yang layak diusulkan. Itu tergantung dari Bapak dan Ibu dalam memanfaatkan waktu dengan baik.” Lanjutnya.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerja sama dengan Politeknik Pertanian Pangkajene Kepulauan mulai dari tanggal 27-29 Maret 2019. Peserta diharapkan menghasilkan dokumen spesifikasi paten yang memenuhi standar untuk difasilitasi pendaftarannya kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. Penilaian dilakukan oleh beberapa fasilitator yang ditunjuk oleh Kemenristekdikti. 65 peserta yang merupakan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi, Maluku, Papua, dan sekitarnya hadir dalam kegiatan ini.

Setiap tahunnya Kemenristekdikti menyelenggarakan Pelatihan Pemanfaaran Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang Berpotensi Paten di 10 kota di Indonesia. Jumlah peserta yang diundang tahun 2019 minimum mencapai 750 dosen yang memiliki hasil penelitian yang berpotensi paten.

Bagian Hukum, Kerjasama, dan Layanan Informasi
Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *