Kemenristekdikti: Kekayaan Intelektual Kunci Peningkatan Nilai Tambah Kekayaan Alam

Tangerang- Ekonomi Indonesia saat ini masih bertumpu pada sumber daya alam, seperti hasil hutan, barang tambang, dan minyak yang sudah mulai terkuras. Indonesia merupakan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan 19 juta ton per tahun dan eksportir batubara terbesar kedua di dunia. Sumber daya alam Indonesia mayoritas di ekspor ke luar negeri tanpa melalui proses peningkatan nilai tambah yang berarti. Untuk meningkatkan nilai tambah pada sumber daya alam, diperlukan teknologi. Paten merupakan aplikasi perlindungan hukum terhadap teknologi yang berlaku di dunia.

Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Sadjuga saat memberikan sambutan dalam “Pelatihan Pemanfaatan Hasil Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kreativitas Mahasiswa yang Berpotensi Paten” yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Budi Luhur di Hotel Golden Tulip Essential, Tangerang, Rabu (29/8) sore.

“Kekayaan alam lama kelamaan akan habis, oleh karena itu kita harus memanfaatkannya dengan baik dengan meningkatkan nilai tambah melalui kekayaan intelektual, termasuk paten.” Ujar Sadjuga.

“Negara-negara maju sudah sejak lama mengandalkan kekayaan intelektual sebagai tulang punggung perekonomian negaranya. Aset dunia 70% didominasi oleh aset tak berwujud” Lanjutnya.

Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kekayaan intelektual, mata kuliah terkait dengan kekayaan intelektual seharusnya tidak hanya diberikan di fakultas hukum saja, namun juga di seluruh fakultas penghasil kekayaan intelektual. “Saat ini, kendala utama rendahnya produktivitas kekayaan intelektual di Indonesia, termasuk paten domestik disebabkan oleh minimnya pengetahuan terkait kekayaan intelektual yang dimiliki oleh mahasiswa dan dosen di Indonesia.” Tegas Sadjuga.

Peningkatan jumlah permohonan pendaftaran paten domestik dalam 3 tahun terakhir dirasa belum cukup untuk meningkatkan perekonomian negara secara signifikan. “Tahun 2015 total 653 permohonan, tahun 2016 total 1307 permohonan, dan tahun 2017 total 2271 permohonan. Diharapkan tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya jumlah permohonan pendaftaran paten domestik meningkat tajam, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.” Jelas Sadjuga.

“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas permohonan pendaftaran paten. Dalam 3 hari ini, bapak/ibu diwajibkan untuk membuat dokumen spesifikasi paten sampai dengan tuntas untuk selanjutnya dinilai oleh para fasilitator.” Papar Sadjuga.

Pelatihan ini menghasilkan dokumen spesifikasi paten yang memenuhi standar untuk difasilitasi pendaftarannya kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. 65 dosen dari berbagai perguruan tinggi hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan di kota ke 8 tahun 2018.

Setiap tahunnya Kemenristekdikti menyelenggarakan Pelatihan Pemanfaaran Hasil Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kreativitas Mahasiswa yang Berpotensi Paten di 10 kota di Indonesia. Total peserta yang diundang tahun 2018 mencapai 900 dosen yang memiliki hasil penelitian yang berpotensi paten.

 

Bagian Hukum, Kerjasama, dan Layanan Informasi
Ditjen Penguatan Risbang, Kemenristekdikti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *