Paten Dapat Tingkatkan Perekonomian Indonesia

Batam – Sentuhan teknologi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Untuk itu, perlindungan paten harus diperhatikan disamping publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Juldin Bahriansyah, dalam Pelatihan Pemanfaatan Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang Berpotensi Paten yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Internasional Batam di Hotel Ibis Styles Batam, Rabu (10/10) sore.

“Kedepan, bobot paten akan lebih tinggi daripada artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional,” ujar Juldin. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin, untuk paten layak diberi bobot sebesar 48 poin, sedangkan artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional sebesar 40 poin.

Juldin juga menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas inovasi dan kewirausahaan berpengaruh terhadap penilaian perguruan tinggi kelas dunia. “Program peningkatan permohonan paten di perguruan tinggi harus dibantu oleh Sentra HKI, karena Sentra HKI merupakan perpanjangan tangan dari Ristekdikti dalam membantu para dosen dan peneliti untuk mengelola karya intelektualnya, sejak pengurusan proses pendaftaran HKI sampai dengan komersialisasinya.” Tegasnya.

Wakil Rektor III Universitas Internasional Batam, Hepy Hefri Ariyanto dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa paten dapat dijadikan sumber penghasilan oleh dosen/peneliti. “Dosen jangan mencari keuntungan dari honor penelitian, tetapi justru dari paten yang merupakan salah satu output hasil litbang.” Ujar Hepy.

“Hasil penelitian jangan sekedar dipublikasikan (di jurnal), tapi seharusnya juga dapat dipatenkan.” Lanjutnya.

Salah satu fasilitator, Ahmad Marzuki menjelaskan bahwa output dari pelatihan ini adalah dokumen spesifikasi paten dari hasil penelitian peserta pelatihan.

“Tahapan pelatihan ini dimulai dari paparan kebijakan pengelolaan KI, pengenalan dan pemanfaatan sistem HKI, penyiapan deskripsi paten, searching paten, praktik penyusunan dokumen spesifikasi paten, konsultasi dengan para fasilitator, sampai dengan penilaian dokumen spesifikasi paten,” papar Ahmad.

Pelatihan ini dihadiri oleh 51 dosen dari berbagai perguruan tinggi di daerah Sumatera. Batam merupakan kota ke-10 penyelenggara pelatihan di tahun 2018.

Layanan Informasi
Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *