2019, Publikasi Ilmiah Indonesia Teratas di Asia Tenggara

PEKANBARU – Saat ini publikasi ilmiah bersertifikasi
internasional yang dimiliki Indonesia adalah 16.528. Jumlah
tersebut tidak terpaut jauh dari Malaysia yang berada di angka
17.211, sementara Singapura berjumlah 12.593 publikasi dan
Thailand 9.595.
Karena itu, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi (Kemristekdikti) menargetkan 2019 jumlah publikasi
ilmiah internasional dari Indonesia menjadi yang paling
banyak di Asia Tenggara, mengalahkan Malaysia yang kini
berada di urutan teratas.
“Saya yakin tahun depan publikasi internasional dari
Indonesia menjadi yang pertama di Asia Tenggara,” ujar
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir pada Hari Kebangkitan Teknologi
Nasional (Hakteknas) Ke-23 di Kota Pekanbaru, Provinsi
Riau, Jumat (10/8).
Nasir sangat optimistis jumlah penelitian Indonesia dapat
mengalahkan Malaysia. “Kita optimistis tahun depan bisa mengalahkan jumlah penelitian Malaysia dan menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Terpautnya tidak sampai 1.000 publikasi,” jelasnya.
Perkembangan jumlah riset dan publikasi, lanjut dia, hasil
riset sampai pada tingkat internasional sudah jauh bertambah
selama tiga tahun terakhir. Pada 2015 jumlah publikasi ilmiah
internasional Indonesia hanya 5.400. Jauh tertinggal dari
negara Thailand yang saat itu sudah mencapai 9.500 dan
Malaysia yang mencapai 18.000.
Dipermudah
“Tiga tahun ini akses periset pada penelitian terus dipermudah, termasuk untuk urusan pertanggungjawaban dana
penelitian. Kini pertanggungjawaban penelitian berbasis
hasil, bukan lagi hanya hitungan anggaran,” tuturnya.
Posisi Indonesia untuk menjadi yang pertama di Asia
Tenggara semakin didukung dengan kebijakan yang memudahkan bagi para peneliti untuk melakukan berbagai riset.
Salah satunya adalah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres)
38/2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).
Di sisi lain, penelitian juga perlu mendapat tempat di
masyarakat luas. Artinya, jangan sampai penelitian hanya
menumpuk di meja arsip dan perpustakaan.
“Hasil-hasil penelitian dan inovasi harus juga berguna di
masyarakat dan mampu meningaktkan derajat kesejahteraan
masyarakat,” tambahnya. (nya-40)

NYA 40 | Suara Merdeka | Sat, 11th August 2018, 15:14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *