Tahun 2019 Target Publikasi “Jurnal Internasional Bereputasi” Indonesia Mencapai 30 Ribu KTI

SHNet, Jakarta – Demi meningkatkan ketersediaan jurnal di Indonesia salah satu usaha pemerintah kita adalah dengan memberikan penghargaan terhadap artikel ilmiah yang telah dibuat. Penghargaan publikasi ilmiah internasional ini ditujukan untuk artikel ilmiah yang bertema strategis terkait dengan pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.

Sayangnya publikasi ilmiah kita di tingkat internasional ternyata sangat minim, sementara jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand kita masih tertinggal. Dampak terbesar yang ditimbulkan dari rendahnya publikasi ilmiah dari para peneliti Indonesia di tingkat internasional adalah rendahnya daya saing bangsa ini di dunia internasional, sehingga mempengaruhi secara tidak langsung laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jadi semakin banyak publikasi bertaraf internasional kian banyak pula riset bermutu unggul dan sesuai kebutuhan industri.

Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan publikasi Indonesia yang bereputasi internasional. Target realistisnya adalah di tahun 2019, dimana jumlah publikasi Indonesia yang bereputasi internasional harus bisa lebih dari 30.000 publikasi, mengingat banyaknya SDM di Indonesia yang potensial terutama jabatan fungsional dosen, peneliti dan mahasiswa S3 yang memiliki kewajiban untuk publikasi di Internasional sebagai persyaratan kenaikan jenjang jabatan dan kelulusan.

Sejumlah langkah coba dilakukan oleh pemerintah untuk dapat mencapai tujuan, misalnya melalui Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PAN-RB) Nomor 17 Tahun 2013 tentang pentingnya publikasi ilmiah di jenjang nasional maupun internasional yang harus menjadi suatu kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Lewat Permen PAN-RB nomor 17 tersebut kebutuhan publikasi menjadi prioritas bagi dosen di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Disamping itu dosen yang masih berijazah Master (S2) wajib meningkatkan kemampuan akademiknya hingga memperoleh ijazah Doktor (S3) agar dapat mencapai jenjang kepangkatan Lektor Kepala. Sedangkan untuk mencapai jabatan akademik Profesor, seorang dosen diharuskan sudah memiliki ijazah Doktor dan mempunyai publikasi pada jurnal internasional yang bereputasi.

Kemudian pemerintah juga sudah menyiapkan suatu bentuk penghargaan atas upaya penulis untuk mempublikasikan penelitiannya di jurnal bereputasi internasional yakni dengan mengupayakannya melalui program insentif publikasi internasional yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan (LPDP), dan setiap institusi yang telah mengalokasikan anggarannya sehingga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peneliti untuk menulis di jurnal internasional bereputasi dan sebagai pemacu peningkatan publikasi Ilmiah Indonesia di Internasional.

“LPDP sudah diminta pemerintah agar anggarannya tidak hanya untuk beasiswa saja tapi juga dapat membiayai riset,” kata Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemeristek Dikti, M. Dimyati, dalam suatu kesempatan.

Nilai penghargaan yang diberikan oleh LPDP terhadap Publikasi Ilmiah Internasional bisa mencapai Rp.50 juta – 100 juta, tergantung kriteria yang dipilih oleh seorang peneliti atau kelompok periset yang mengusulkan karya tulis ilmiah (KTI) nya. Tapi tentu saja penghargaan yang diberikan harus memenuhi beberapa syarat umum, seperti harus memuat nama institusi Indonesia, dan juga wajib meletakkan namanya sebagai penulis utama jika yang mengusulkan merupakan sebuah kelompok periset.

Dengan menggunakan bahasa internasional yang diakui oleh PBB pada karya tulis ilmiah yang diusulkan, syarat mutlak lain dari LPDP menyatakan bahwa artikel yang dibuat juga telah diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus dan/atau Thomson Reuters (berstatus published) dalam periode waktu 5 (lima) tahun terakhir.

“Angka publikasi ilmiah internasional kita yang terindeks Scopus pada 2015 hanya 5.000-an. Namun, per 5 Desember 2016, jumlahnya meningkat menjadi 9.012 jurnal,” ujar Menristekdikti, M. Nasir saat memberi sambutan dalam acara Visiting World Class Professor, Desember 2016 lalu.

Scopus sebagai pangkalan data pustaka publikasi yang menampilkan ringkasan
(abstrak) dan sitiran artikel jurnal akademik memang menjadi salah satu acuan jurnal internasional bereputasi yang disyaratkan Permen-PAN-RB Nomor 17 tahun 2013. Karena setiap jurnal internasional lainnya untuk diakui sebagai jurnal internasional

bereputasi harus terindeks pada database internasional yang ada di dalamnya. Selain Scopus yang menggunakann pengukuran Scimago Journal Rank (SJR), ada juga Web of Science yang dikelola oleh perusahaan informasi Thomson Reuters yang memiliki faktor dampak (impact factor) ke sejumlah referensi penulis (sitiran).

Jumlah publikasi ilmiah terindeks Scopus dari Indonesia per 22 Desember 2016 lalu dilaporkan telah mencapai 9.457 karya tulis ilmiah. Jumlah tersebut sebenarnya melewati target Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang mematok angka 6.229 publikasi terindeks Scopus pada tahun 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *