Rapat Koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat & Lembaga Penelitian dan Pengembangan 2016

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan kembali Rapat Koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan yang dilaksanakan pada tanggal 6-7 Desember 2016 di Hotel Millenium, Jakarta. Rakor ini dihadiri oleh 350 orang, terdiri para Rektor PTN dan PTS, LPNK Ristek, Badan Litbang Kementerian dan Daerah, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi negeri maupun swasta, Kopertis, dan stakeholders lainnya.

Rakor kali ini mengambil Tema “Penguatan Riset di Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang kepada Masyarakat untuk Meingkatkan Kemandirian dan Daya Saing Bangsa”. Tema tersebut dipilih dalam upaya memperkuat daya dukung iptek/litbangyasa untuk peningkatan daya saing nasional dan daerah yang termasuk dalam agenda penting penguatan sistem inovasi nasional dan pemanfaatan/hilirisasi hasil-hasil penelitian oleh masyarakat. Rakor kali ini juga diikuti dengan kegiatan Expose Hasil-hasil Penelitian LPPM dan Lembaga Litbang serta penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kemenristekdikti dengan BNP2TKI, BKKBN, KPPU.

Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, menyatakan bahwa Rakor kali ini selain merupakan Rakor tahunan, juga merupakan lanjutan dari Rakor 9 Agustus di Solo saat acara Hakteknas 21 yang lalu, yang telah menghasilkan PROTOKOL SOLO BARU, yaitu sebuah kesepakatan yang ingin mendorong pencapaian Indonesia sebagai JUARA ASEAN, dalam publikasi ilmiah dan kekayaan intelektual. Berbagai masukansangat diperlukan untuk penyempurnaan dan penyelarasan berbagai program riset dan pengembangan pada tahun 2017 mendatang.

Muhammad Dimyati menyatakan bahwa Rakor ini merupakan upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih kondusif dan penyelarasan program, baik secara vertikal maupun horisontal harus berkesinambungan dan tidak boleh terhenti, mengingat lingkungan strategis baik nasional, regional, maupun internasional dewasa ini sangat dinamis dan bergerak sangat cepat. Beliau menambahkan bahwa tahun 2017 merupakan tahun pertamapenerapan anggaran Riset Berbasis Output, dimana peneliti akan lebih fokus dalam pelaksanaan riset, daripada urusan administrasi. Belum semuaLembaga Litbang menerapkan Peraturan Riset Berbasis Output tersebut pada tahun 2017. Namun tentu ke depan akan secara bertahap semua Lembaga Litbang akan menerapkannya, sesuai dengan dinamika yang ada. Era ke depan adalah era perubahan mendasar dalam melaksanakan riset. Tentu dengan berbagai upaya perbaikan yang dilakukan Pemerintah dalam Regulasi, pemberian insentif, dan juga kemudahan lainnya diharapkan hasil riset ke depan akan lebih banyak menghasilkan publikasi internasional, kekayaan Intelektual, dan prototipe yang siap dihilirisasi. Dalam kontek tersebut kami terus dan sedang melaksanakan berbagai penyederhaan skema dan juga regulasi yang lebih membuat kondusifitas bagi para peneliti, imbuhnya.

Menristekdikti menyatakan bahwa hasil riset mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam menentukan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa, sehingga hampir tidak ada negara di dunia ini yang mempunyai daya saing dan pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memberikan perhatian yang serius terhadap dunia riset. Oleh karena itu kinerja penelitian akan dinilai dari kualitas keluarannya. Tim penilai/reviewer akan menjadi ujung tombak dalam penjaminan mutu penelitian. Untuk itu, saya telah mengeluarkan Pedoman Pembentukan Komite Penilaian dan/atau Reviewer dan Tatacara Pelaksanaan Penilaian Penelitian Menggunaan Standar Biaya Keluaran tahun 2017 dalam bentuk Permenristekdikti Nomor 69 Tahun 2016, tambahnya.

Menristekdikti berharap agar momen ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil riset dan pengembangan. Beliau merasa optimis bahwa hasil riset dan pengembangan akan semakin meningkat dengan adanya jaminan keberlanjutan riset melalui skema pembiayaan multiyear. Dengan jaminan pembiayaan secara multiyear diharapkan penelitian tidak terputus-putus sehingga dapat dihasilkan teknologi yang siap diterapkan baik oleh industri, pemerintah, maupun masyarakat umum, tambahnya.

Menristekdikti meminta kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan dan semua pihak untuk merapatkan barisan, menyatu-padukan langkah- langkah kongkrit yang diperlukan, berbenah dan persiapkan diri untuk menyesuaikan dengan tata kelola penelitian yang baru. Semua itu diperlukan untuk mencapai sasaran antara dalam jangka menengah, pada tahun 2019 menjadi juara di ASEAN dalam menghasilkan publikasi internasional, paten, dan kekayaan intelektual lainnya.” – Tutup Menristekdikti, M. Nasir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *